…..memanfaatkan potensi alam

Tak Putus Asa meski Digerus Sofa-Sofa Mewah dan Nyaman
Sudah 23 tahun ini pasangan suami-istri (pasutri) Waslip (65) dan Siti Rohani (60) menggeluti pekerjaan membuat kursi dari bambu. Mereka tetap yakin masyarakat masih suka produk tradisional.
Terik matahari menyinari Kota Bandarlampung kemarin (19/10). Di tengah perjalanan di Jl. Purnawirawan I, Langkapura, Kemiling, tampak beberapa siswa SD berjalan pulang ke kediamannya masing-masing ditingkahi canda satu sama lain.

Tepat di Gang Sentosa di ujung Jalan Purnawirawan I, terlihat seorang lelaki berkaus putih memegang pisau tajam. Dia didampingi wanita yang juga memegang pisau. Keduanya sibuk membelah batang bambu.

Merekalah Waslip dan Siti Rohani. Kakek dan nenek yang sudah mempunyai 18 cucu ini mempersilakan Radar Lampung masuk melihat pekerjaannya. ’’Ini lagi motong-motong bambu,’’ ujar Siti kemarin.

Dalam sehari, keduanya dapat membuat kursi bambu dengan panjang 2 meter sebanyak 3-5 buah. ’’Mulai kerja ya sekitar pukul 09.00 WIB. Selesainya jam 17.00. Tetapi kalau capek ya berhenti,’’ kata Waslip.

Sedangkan Siti membantu setelah pekerjaan di rumahnya selesai. Dalam rangkaian membuat kursi bambu itu, Waslip mengerjakan hampir semua tahap. Yakni dari pembersihan bambu hingga membuat lubang-lubang perakitan. Sedangkan sang istri terkadang juga membantu membersihkan, tetapi lebih dominan membelah-belah bambu untuk alas tempat duduknya.

’’Kalau saya setelah rumah beres baru ke sini untuk membantu bapak,’’ ungkap Siti sambil menunjukkan kediamannya yang berjarak sekitar 20 meter dari tempat kerjanya.

Pasutri tersebut mematok harga per buah dari kursi bambu tersebut Rp50-60 ribu. ’’Kalau bambunya kami pesan dari Tanjungbintang. Kami pesan kalau sudah habis aja. Harganya mahal, satu mobilnya Rp1,8 juta,” beber Waslip.

Untuk keuntungan per bulan, keduanya hanya mendapatkan Rp500-600 ribu. ’’Yang penting bisa beli bambu lagi Mas. Karena kalau nggak bisa beli, mau kerja apa lagi,’’ tutur Waslip yang hanya tinggal dengan sang istri dan satu cucunya.

Untuk proses penjualan, Waslip mengungkapkan, ada 3 orang yang datang untuk mengambil hasil pekerjaannya. Tetapi, ia juga akan melayani jika ada konsumen yang langsung datang atau memesan. ’’Kalau saya yang jualan nggak kuat lagi Mas. Pinggang dan kaki saya sudah sakit kalau jalan jauh,’’ paparnya.

Waslip berharap dapat membuat kursi dari bambu tersebut sampai dirinya tidak kuat lagi. Karena inilah satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakoni untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari. ’’Maunya sih banyak yang laku, biar bisa dapat untung,’’ ujarnya. (c1/ary)

Sumber : http://www.radarlampung.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: