…..memanfaatkan potensi alam

Kerajinan berbahan bambu sudah jamak di mana-mana. Butuh kreativitas agar kerajinan dari bambu memiliki banyak peminat. Karena itu, munculah kerajinan spun bamboo atau pilinan bambu. Kerajinan asli Vietnam ini mulai marak di negeri kita dan menyediakan peluang bisnis.

Bambu memang tanaman yang istimewa. Kita bisa memanfaatkan bambu dari akar hingga daunnya. Batangnya yang lentur tapi kuat membuat bambu kerap menjadi bahan baku produksi aneka barang fungsional seperti meja, kursi, penopang rumah, dan lainnya.

Tak cuma itu, bambu juga sering menjadi bahan baku kerajinan. Tapi, pengolahan bambu menjadi kerajinan yang menarik tentu butuh keahlian tersendiri.

Salah satu kerajinan itu adalah spun bamboo alias kerajinan berbahan pilinan bambu. Menurut Suwarji, perajin bambu di Yogyakarta, spun bamboo alias bambu koil dibuat dengan cara melilitkan bambu yang dibelah tipis. Perajin melilitkan irisan-irisan bambu itu sehingga menyatu dan menjadi bentuk sesuai keinginan. Proses pengerjaannya pun sepenuhnya secara manual, mulai dari pemotongan bambu, melilit bambu, hingga membentuk kerajinan. Hanya proses penghalusan saja yang memakai mesin.

Dengan teknik ini, Suwarji bisa membuat banyak macam benda kerajinan. Awalnya, pemilik FDA Handicraft di Gunungkidul ini hanya membuat alas makan yang berbentuk datar. Seiring perkembangan keahlian, dia membuat berbagai benda seperti piring, mangkok, tempat bunga, dan lainnya.

Benda-benda tersebut terlihat unik lantaran dari luar tampak memiliki tekstur seperti kayu. Banyak orang kerap tak menyangka kerajinan itu berasal dari bambu.

Suwarji mengatakan, proses pembentukan kerajinan bambu koil bisa memakan waktu cukup lama, tergantung kerumitan bentuk kerajinannya. Untuk kerajinan tatakan gelas, dengan tenaga kerja sebanyak 80 orang, FDA Handicraft bisa membuat 500 buah dalam sehari. Namun, pengerjaan sebuah guci dari bambu koil bisa membutuhkan waktu satu minggu.

Suwarji mengaku peminat spun bamboo cukup banyak, bahkan dari luar negeri. Meski tidak secara langsung, spun bamboo buatan Suwarji telah hadir di Spanyol, Amerika, dan Eropa.

Namun, Suwarji mengakui, penguasa pasar bambu koil terbesar memang masih perajin Vietnam. Maklum, kerajinan bambu koil ini berasal dari Vietnam. “Tapi, kerajinan bambu koil di sini tidak kalah dengan Vietnam,” kata Suwarji.

Suwarji menjual produk spun bamboo dengan kisaran harga Rp 5.000 hingga Rp 1,5 juta. Saban bulan, Suwarji bisa meraup omzet hingga
Rp 50 juta. Dari omzet itu, dia mengantongi margin keuntungan sekitar 20%.

Suwarji melihat, kerajinan bambu koil memiliki prospek yang cukup cerah. Sebagai bukti, pada pameran Inacraft pekan lalu, spun bamboo Suwarji memikat cukup banyak peminat. Meski hanya membawa sedikit barang lantaran kapasitas stan yang terbatas, Suwarji bisa meraup omzet sekitar Rp 20 juta selama pameran.

Dari : http://weekend.kontan.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: