…..memanfaatkan potensi alam

Tanaman bambu berpotensi menjadi solusi alternatif bagi sejumlah permasalahan lingkungan terutama dalam mengatasi pemanasan global. Prof Dr Elizabeth Widjdja di Bandung, mengatakan cepatnya pertumbuhan bambu dibanding dengan pohon kayu, membuat bambu dapat diunggulkan untuk deforestasi. Selain itu bambu juga merupakan penghasil oksigen paling besar dibanding pohon lainnya.

Bambu juga memiliki daya serap karbon yang cukup tinggi untuk mengatasi persoalan CO2 di udara, selain juga merupakan tanaman yang cukup baik untuk memperbaiki lahan kritis. Ia juga menyebutkan Indonesia memiliki bambu sebagai sumber daya lokal terbarukan dengan potensi yang luar biasa dari aspek lingkungan alam dan sosial ekonomi.

Bambu juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif atau biofuel yang ramah lingkungan. Pohon bambu juga berfungsi sebagai penjernih air. maka dari itu daerah bantaran sungai yang banyak pohon bambu, air sungai tersebut terlihat jernih.

Dikatakan, pengembangan bambu di Indonesia seharusnya menjadi agenda penting bukan hanya untuk menjawab persoalan lokal tetapi menjadi sumbangan aspiratif dari Indonesia bagi masyarakat dunia.

Pembudidayaan bambu itu sendiri kurang diperhatikan pemerintah, tidak pernah dianggap serius, padahal pemerintah seharusnya dapat menyediakan lahan untuk pembudidayaan bambu juga untuk menanggulangi lahan kritis termasuk mengatasi banjir dan erosi.

Selain itu bilamana pemerintah jeli, pemanfaatan bambu untuk memproduksi biofuel tentu akan sangat menguntungkan dan ramah lingkungan.

Dijelaskan pula, bahwa varietas bambu di Indonesia merupakan yang paling banyak di dunia yaitu sekitar 160 jenis bambu dan namun baru 88 yang benar-benar menjadi endemik di Indonesia.

Namun disayangkan begitu besarnya potensi bambu di Indonesia namun tidak dimanfaatkan dengan maksimal, dan bambu merupakan pohon yang serba bermanfaat baik untuk lingkungan alam dan ekonomi sosial.

Advokasi pelestarian lingkungan selama ini terkesan kontra produktif bagi dunia industri. Seandainya advokasi bisa lebih diarahkan untuk mendorong industri yang memang berlandaskan pada pelestarian lingkungan.

Kenapa bambu ? Karena bambu mudah tumbuh di negara kita tanpa bantuan pestisida maupun pupuk kimia buatan. Bambu juga mempunyai struktur akar yang kuat untuk menahan terjadinya erosi sehingga bagus ditanam di lereng. Bambu mempunyai kecepatan fotosintesis 35% lebih dibanding tumbuhan yang lain sehingga dapat memproduksi oksigen lebih banyak. Sekali ditanam, bambu tidak perlu ditanami lagi karena otomatis beranak-pinak, tentu saja dengan pola panen yang teratur dan bijaksana disesuaikan dengan pertumbuhannya. Melihat keunggulan-keunggulan tersebut pohon bambu nampak dapat menjadi kandidat yang bagus untuk pelestarian lingkungan.

Memang punya nilai ekonomis ? Minimal ada dua hasil akhir dari bambu yang saat ini (sangat) dibutuhkan manusia, yaitu kertas dan kain. Khususnya kain yang berasal dari serat bambu mempunyai keunggulan dapat menghambat pertumbuhan bakteri sampai 70%. Pernah membaca tag pada kaos kaki/pakaian dalam yang meng-klaim sebagai anti bakteri ? Kemungkinan bahan dasarnya sudah dicampur dengan serat bambu.

Terus prosesnya bagaimana ? Proses awal sebelum menjadi kertas atau kain adalah kita harus memisahkan serat bambu dari batang bambu melalui proses pulping. Proses ini menggunakan cairan kimia yang berpotensi menghasilkan limbah. Untuk meminimalkan kadar limbah ini limbah yang terjadi harus diolah melalui recovery boiler supaya didapat cairan kimia yang akan digunakan pada proses pulping tadi.
Proses pulping tadi berlaku baik pada pembuatan kertas maupun kain hanya serat yang dihasilkan berbeda ukurannya.

Pada pembuatan kertas serat yang dihasilkan lebih halus dan bisa diproses menjadi kertas seperti pada pembuatan kertas yang biasa.

Pada pembuatan kain serat yang dihasilkan haruslah lebih panjang dan lebih teratur supaya dapat diproses selanjutnya. Proses berikutnya biasanya meliputi pencucian untuk menghilangkan unsur-unsur lain, penyisiran supaya serat menjadi lebih teratur dan peminyakan supaya serat mudah dipintal.
Setelah serat siap dipintal maka serat bambu tadi dapat dipintal dengan mesin pintal biasa supaya menjadi benang.
Setelah menjadi benang tahap berikutnya tentu saja penenunan untuk menjadi kain.

Dari : berbagai sumber

Comments on: "Budidaya Bambu sebagai Upaya Pelestarian Lingkungan" (1)

  1. Hanch Lopo said:

    bagaimana cara potensi bambu yang diolah menjadi bahan bakar pengganti minyak bumi menjadi sumber energy alternative???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: