…..memanfaatkan potensi alam

F. Papan semen

Berdasarkan penelitian hydratasi, bahan bambu adalah termasuk golongan bahan yang kurang baik sebagai bahan papan wol kayu, tetapi percobaan dengan direndam dahulu selama 2 hari, memperlihatkan hasil yang baik, yaitu dengan suhu maksimum 56°C dalam tempo 9 jam. Percobaan pembuatan papan dengan serutannya direndam dahulu dalam air selama 48 jam menghasilkan keteguhan rekat papan semen 21,3% dan keteguhan lengkung 6,4 kg/cm2 (Kamil, 1970). Bahan yang dipergunakan adalah 500 bambu, 500 kg semen dan 200 gr air kapur. Berat jenis papn menjadi 0,42 kekuatan tidak dapat disamakan dengan kayu sebab kekuatan lenturnya sendiri adalah berlainan.

G. Arang

Pembuatan arang dari bahan bambu telah diteliti oleh Nurhayati pada tahun 1986 dan 1990 masing-masing dengan cara destilasi kering dan cara timbun skala semi pilot. Penelitian tersebut menggunakan bahan empat jenis bambu, yaitu bambu tali (Gigantochloa apus Kurz), bambu ater (Gigantochloa ater Kurz), bambu andong (Gigantochloa verticillata Munro) dan bambu betung (Dendrocalamus asper Back). Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa pada tiap bagian batang bambu dari jenis yang sama terdapat perbedaan berat jenis dan sifat hasil destilasi kering. Arang dari bagian bawah batang pada semua jenis bambu menunjukkan berat jenis dan rendemen arang yang tinggi. Perbedaan letak pada bagian batang bambu ater menunjukkan kecenderungan makin ke atas makin rendah rendemen arang yang dihasilkannya.

Bagian tengah atau atas batang dari semua jenis bambu yang dicoba rendemen piroligneous liquor menunjukkan hasil paling tinggi. Untuk bambu andong dan bambu betung rendemen piroligneous liquor yang paling tinggi dihasilkan oleh bagian batang atas, sedangkan pada bambu ater dan tali rendemen tertinggi dihasilkan pada bagian tengah batang. Hasil pengamatan sifat arang dari empat jenis bambu dapat dilihat pada Tabel 16, sedangkan Tabel 17 menunjukkan sifat arang bambu dengan cara timbun.

Tabel 16. Berat jenis dan rendemen destilasi kering 4 jenis bambu

No Bambu Bagian batang Berat jenis Rendemen (%)
Arang Ter Piroligneous
1

Andong

Bawah
Tengah
Atas
0,51
0,47
0,42
40,57
30,73
36,17
7,72
5,93
7,64
36,19
31,25
36,85
2

Ater

Bawah
Tengah
Atas
0,74
0,72
0,61
43,46
37,48
24,77
9,06
5,48
5,18
44,39
70,22
18,87
3

Bitung

Bawah
Tengah
Atas
0,72
0,72
0,67
40,09
34,81
37,04
7,17
5,29
7,09
35,67
30,24
40,99
4

Tali

Bawah
Tengah
Atas
0,45
0,38
0,37
39,27
33,52
39,18
6,01
4,72
6,90
44,10
59,27
39,04

Sumber : Nurhayati (1986)

Tabel 17. Sifat arang bambu

No Bambu Berat jenis Kadar air (%) Abu (%) Zat mudah terbang (%) Karbon terlambat (%)
1

Andong

0,48 4,60 7,38 23,32 69,30
2

Ater

0,65 6,66 5,55 12,39 82,06
3

Bitung

0,53 4,28 7,46 33,68 54,86
4

Tali

0,40 7,08 5,64 14,01 80,35
5

Bakau

5,41 4,48 17,81 77,30

Sumber : Nurhayati (1986)
Keterangan : Berdasarkan berat kering oven

Sifat hasil destilasi kering dari empat jenis bambu yang dicoba tidak menunjukkan perbedaan nyata. Nilai rata-rata rendemen arang adalah 36,05%, piroligneous 40,58% dan tar 6,55%. Sifat arang dari empat jenis bambu yang dicoba menunjukkan perbedaan nyata. Berat jenis arang paling tinggi dihasilkan oleh bambu ater (0,62 g/cm3) dan yang paling rendah bambu tali (0,25 g/cm3).

Kadar abu paling tinggi terdapat pada bambu betung (7,46%) dan paling rendah pada bambu lati (5,65%). Kadar zat mudah terbang paling tinggi pada bambu tali (24,43%) dan paling rendah pada bambu betung (17,06%). Kadar karbon tertambat paling tinggi terdapat pada bambu betung (75,54%) dan paling rendah pada bambu tali (69,78%).

Nilai kalor arang yang dihasilkan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata tetapi berbeda nyata menurut bagian batang. Nilai kalor arang rata-rata 6602 cal/g. Nilai kalor yang dihasilkan oleh bagian bawah bambu andong, ater dan tali menunjukkan paling tinggi. Nilai kalor arang bambu tali menunjukkan perbedaan sangat nyata pada tiap bagian batang dengan kecenderungan makin keatas batang makin rendah nilai kalornya.

Berdasarkan perbandingan antara keempat jenis bambunya, dapat ditentukan bahwa bambu ater paling baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan arang. Proporsi yang tinggi diperoleh dari rendemen arang yang berkualitas baik. Sedangkan rendemen arang mentah dan bubuk, proporsinya paling rendah. Sifat arang bambu yang dihasilkan umumnya relatif sama dengan sifat arang dari kayu bakau. Sifat arang bambu ater dan bambu tali lebih baik dari sifat arang bambu andong dan bambu betung.

Pembuatan arang aktif dari bahan bambu telah diteliti oleh Nurhayati (1994). Serpihan contoh bambu diaktivasi dan dikarbonisasi dalam ukuran 0,2 – 0,5 cm dalam kondisi kering. Aktivasi dilakukan dengan perendaman serpih dalam larutan asam fosfat 20% selama 24 jam, setelah itu contoh ditiriskan tinggal setengah kering, lalu dimasukkan ke dalam retort dan di panaskan sampai suhu 900°C selama 3 – 4 jam. Selanjutnya diaktivasi lagi dengan uap panas selama 1 jam. Arang aktif yang dihasilkan dengan cara ini dianalisa sifat absorpsinya terhadap iodine dan hasilnya tercantum dalam Tabel 18.

Tabel 18. Sifat arang aktif bambu andong dan bambu betung

No. Bambu Aktivasi kimia jenis/jam uap°C/jam Rendemen (%) Daya serap iodin mg/g
1

Andong

H3PO4 / 24 900 / 1 15,7 1150
2

Betung

H3PO4 / 24 900 / 1 16,6 1004

Sumber : Nurhayati (1994)

Arang aktif bambu andong dan betung menghasilkan absorpsi tinggi dengan angka melebihi standar AWWS dan SII, serta masuk dalam kisaran kelompok arang aktif komersial. Jika dibandingkan dengan arang aktif yang dibuat dari arang bakau dan arang tempurung kelapa, angka absorpsi jauh lebih tinggi arang aktif dari bahan bambu andong dan betung.

H. Pulp

Bahan bambu memiliki kandungan selulosa yang sangat cocok untuk dijadikan bahan kertas dan rayon, bahkan China sangat mengandalkan bahan bambu sebagai bahan baku industri kertasnya. Pemanfaatan bambu sebagai bahan kertas di Indonesia telah diterapkan pada industri di Gowa dan banyuwangi, tetapi karena menemui beberapa kendala dalam pengadaan bahan baku, maka perusahaan kertas itu lebih banyak menggunakan bahan baku lain. Adapun penelitian dengan menggunakan campuran antara bahan bambu dengan kayu daun lebar telah dilakukan oleh Pasaribu dan Silitonga (1974).

Kayu daun lebar yang digunakan sebagai campuran adalah kayu jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) dan kemiri (Aleurites moluccana Wild.), sedangkan bahan bambu yang digunakan adalah bambu duri (Bambusa bamboss Backer.), bambu paring (Gigantochloa atter Kurtz.), bambu popo (Dendrocalamus asper Backer.) dan bambu banoa (Bambusa vulgaris Schrad.). Pulp yang dihasilkan dari 100 % bahan bambu mempunyai bilangan permanganat dan faktor retak yang terendah tetapi mempunyai kekuatan sobek yang tertinggi. Untuk pulp dengan campuran 70% kayu jabon dan 30% bambu mempunyai daya regang tertinggi. Sedangkan faktor retak tertinggi dicapai pada campuran 35% kayu jabon, 35% kayu kemiri dan 30% bambu.

Pada umumnya rendemen yang diperoleh termasuk dalam kriteria tinggi yaitu antara 41,24% – 47,14%. Rendemen tertinggi untuk campuran 70% kayu kemiri dan 30% bambu didapat dengan menggunakan aktif alkali 16% dan sulfiditi 22%. Tetapi pada campuran 50% kayu jabon dan 50% bambu yang dimasak pada aktif alkali 16%, sulfiditi 22% dan 25% memberikan rendemen yang rendah.

Secara keseluruhan pulp hasil campuran kayu dan bambu ini mudah diputihkan. Hal ini tampak pada nilai bilangan permanganat yang rendah yaitu antara 7,38 sampai 12,85. Kecuali untuk pulp yang dihasilkan dari campuran 50% kayu jabon dan 50% kayu kemiri yang diolah pada aktif alkali 16% dan sulfiditi 22% dan 25% memberikan nilai bilangan permanganat yang tinggi, antara 14,23% sampai 16,01%.

Penilaian rendemen dan sifat fisiko-kimia pulp yang diperoleh dari berbagai komposisi kayu dan bambu adalah bahwa pulp yang yang didapat dari campuran bambu 100% menunjukkan nilai terbaik dalam bilangan permanganat dan kekuatan sobek. Campuran 70% kemiri dan 30% bambu menghasilkan rendemen tertinggi, sedangkan campuran 70% jabon dan 30% bambu menunjukkan nilai tertinggi pada daya regang. Faktor retak tertinggi didapat dari campuran 35% kayu jabon, 35% kayu kemiri dan 30% bambu.

Pemasakan campuran kayu jabon, kayu kemiri dan bambu dapat dilakukan tanpa mengurangi sifat kekuatan pulp secara keseluruhan. Untuk mendapatkan rendemen dan sifat kekuatan pulp yang baik, kondisi pemaskan yang dianjurkan adalah pada aktif alkali 16%, sulfiditi 22%, waktu pemasakan 2,5 jam pada suhu maksimum 165°C dan perbandingan kayu larutan pemasak 1 : 4,5. Sedangkan kondisi yang dianjurkan untuk memasak campuran kayu jabon dan kemiri adalah dengan menggunakan aktif alkali 16%, sulfiditi 25%, waktu pemasakan 2,5 jam pada suhu 165°C dan perbandingan kayu larutan pemasak 1 : 4,5.

I. Barang kerajinan

Sebagai bahan kerajinan bambu sama dengan kayu, merupakan bahan mentah yang peka terhadap pengaruh luar baik yang bersifat fisis, kimiawi, maupun biologis. Bahan pengawet dan pemantap dan perekat sering digunakan dalam pembuatan barang kerajinan kayu dan bambu.

Hasil pengerjaan permukaan bambu dengan sirlak, teak oil, vernis, pelaburan cat dan penyemprotan dengan cat duco sebagai bahan kerajinan tidak dipengaruhi oleh adanya bahan pengawet borax, tetapi bahan pemantap PEG mempengaruhi pengerjaan bambu dengan teak oil. Selain itu perekatan dengan kasein dan neopren mempengaruhi pengerjaan permukaan bambu dengan sirlak dan vernis (Abdurrachman, 1977). Hasil pengerjaan permukaan bambu terdapat pada Tabel 19.

Tabel 19. Rekapitulasi hasil pengerjaan permukaan bambu

No Jenis bambu Permukaan bambu
Sirlak Teak oil Vernis Cat biasa Cat duco
a b c d a b c d a b c d a b c d a b c d
1 Bambu apus 0 0 0 0 + 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 Bambu hitam 0 0 0 0 0 + 0 0 0 0 0

Sumber : http://www.dephut.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: