…..memanfaatkan potensi alam

B. Pengeringan

Proses pengeringan bambu dibutuhkan guna menjaga stabilisasi dimensi bambu, perbaikan warna permukaan, juga untuk pelindung terhadap serangan jamur, bubuk basah dan memudahkan dalam pengerjaan lebih lanjut. Kekuatan bambu juga akan bertambah dengan bertambah keringnya bambu. Pengeringan bambu harus dilaksanakan secara hati-hati, karena apabila dilaksanakan terlalu cepat (suhu tinggi dengan kelembaban rendah) atau suhu dan kelembaban yang terlalu berfluktuasi akan mengakibatkan bambu menjadi pecah, kulit mengelupas, dan kerusakan lainnya. Sebaliknya bila kondisi pengeringan yang terlalu lambat akan menyebabkan bambu menjadi lama mengering, bulukan dan warnanya tidak cerah atau menjadi gelap.

Pengeringan bambu dapat dilakukan secara alami (air drying), pengasapan, pengeringan dengan energi tenaga surya (solar collector drying) atau kombinasi dengan energi tungku, dan pengeringan dalam dapur pengering. Penelitian mengenai metode pengeringan bambu telah dilakukan oleh Basri (1997). Basri menginformasikan bahwa dengan sistem pengasapan dan energi tenaga surya sebaiknya dilakukan setelah kadar air bambu di bawah 50% agar kualitas bambu tetap terjaga. Bambu yang masih sangat basah setelah dipotong sesuai ukuran yang akan dipergunakan, dibersihkan dan ditumpuk berdiri dengan posisi saling menyilang atau ditumpuk secara horisontal selama kurang lebih satu minggu. Untuk mempercepat pengeluaran air ditempatkan kipas/fan didekatnya. Pengeringan bambu dengan cara diasapkan tampak pada gambar 2a dan 2b.
alatpengeringbambu.jpg (13819 bytes) pengeringanbambudiasapkan.jpg (10781 bytes)
2a 2b
Gambar 2. Metode pengeringan bambu dengan cara pengasapan

Pengeringan dengan energi tenaga surya dilakukan dengan menjaga agar suhu dan kelembaban tidak berfluktuasi. Usaha yang dilakukan dengan sesering mungkin membuka ventilasi atau menyemprotkan air ke permukaan bambu. Untuk membantu distribusi panas ke seluruh permukaan bambu perlu dipasang kipas yang jumlah dan ukuran dayanya disesuaikan dengan luas ruangan. Ruangan dengan kapasitas bambu basah 3 m3 diperlukan 2 buah fan yang masing-masing dengan daya 1 PK (HP) dan putaran 1600 RPM.

Dalam ruangan pengering perlu dijaga keseimbangan suhu serta kelembabannya, agar kualitas pengeringan bambu dapat terjaga. Pada malam haripun diperlukan suplai energi ke dalam dapur pengeringan tenaga surya. Suplai energi tersebut dapat berasal dari tungku limbah kayu atau kompor.

Penyimpanan dan penanganan bambu yang telah dikeringkan perlu dilakukan agar kualitas bambu tidak mengalami penurunan. Hal ini perlu dilakukan karena bambu mempunyai sifat hygroskopis, sehingga bambu yang sudah kering akan tetap menyerap air kembali apabila ditempatkan pada kondisi yang lembab. Penyerapan dan pengeluaran air yang berulang-ulang biasanya diikuti dengan retak dan pecah pada bambu. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka beberapa cara yang perlu diperhatikan diantaranya adalah menyimpan bambu pada ruang yang tidak lembab, lantai kering dan sirkulasi udara lancar. Hal yang perlu diperhatikan adalah penyimpanan bambu yang sudah kering dan bambu yang masih basah dicampur dalam suatu ruang tertutup. Disamping itu pengangkutan bambu kering harus terlindung dari hujan dan panas yaitu dengan menggunakan bahan pembungkus kedap air, namun juga dapat melewatkan udara yang lembab dari dalam tumpukan bambu.

Pengembangan penelitian peningkatan kualitas bambu melalui tehnik pengeringan dan pengawetan dilakukan oleh Basri dan Jasni (1995). Pengawetan dilakukan dengan menggunakan bahan pengawet dari jenis pestisida chlorpirifos 400 cc pada 3 tingkat konsentrasi dan borax 4 macam konsentrasi. Bambu-bambu yang telah diawetkan kemudian dikeringkan pada 3 kondisi suhu yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa daya tahan bambu terhadap rayap bergantung pada konsentrasi bahan pengawet yang digunakan. Pengawetan bambu menggunakan chlorpyrifos 400 gr/l atau boraks dapat meningkatkan daya tahan bambu terhadap serangan rayap tanah Captotermes curvignathus dan rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus. Kualitas fisik dan warna bahan bambu bergantung kepada pemakaian suhu pengeringan. Pengeringan bambu menggunakan suhu sedang (+500C) dapat meningkatkan kualitas bambu dari segi fisik (tidak pecah, kulit tidak mengelupas ataupun mengerinyut). Bambu yang diawetkan dengan boraks pada konsentrasi minimal 4% dan dikeringkan dengan suhu sedang, selain dapat meningkatkan daya tahan bambu tersebut terhadap rayap juga mempunyai kualitas warna lebih cerah dibandingkan dengan bahan pengawet chlorpirifos.

C. Stabilisasi warna

Usaha peningkatan kualitas bambu sebagai bahan kerajinan anyaman adalah dengan meningkatkan kecerahan warna bambu melalui pemutihan. Bambu tali (Gigantochloa apus) yang mempunyai serat yang ulet dan ruas yang panjang dan sering digunakan sebagai bahan anyaman, telah dipilih oleh Zulnely dan Dahlian (1999) sebagai bahan penelitian pemutihan bambu. Sebagai bahan pemutih digunakan larutan hidrogen peroksida (H2O2) dan digunakan bahan bambu yang berbeda umurnya, pada ruas yang terpisah. Untuk mengetahui kemungkinan perubahan kekuatannya dilakukan uji keteguhan tarik. Hasil derajat pemutihan dan keteguhan tarik bambu tali terdapat pada Tabel 12.

Tabel 12. Data derajat putih dan keteguhan tarik bambu tali (Gigantochloa apus) yang telah diputihkan

Umur bagian bambu Derajat putih (%) Keteguhan tarik (kg/cm2)
Diputihkan Tak diputihkan Diputihkan Tak diputihkan
6 bulan – ujung 67,29 43,54 90,87 102
– tengah 68,42 44, 71 98,33 133
– pangkal 60,51 39,42 164 248
1 tahun – ujung 62,94 38,77 160,27 192
– tengah 56,66 36,86 186,40 239
– pangkal 62,69 37,36 178,53 210

Sumber : Zulnely dan Dahlian (1999)

Selain pencerahan warna bambu, pada beberapa tujuan produksi kadang ditemukan keinginan untuk menampilkan bambu dalam warna kulit alaminya. Hal ini disebabkan karena kecenderungan kulit bambu untuk berubah warna menjadi kuning setelah melalui proses pengeringan alami. Pengawetan mengenai warna hijau kulit bambu telah dilaksanakan pada bambu andong (Gigantochloa verticillata Munro.) oleh Barly dan Ismanto (1998). Hasil dari penelitian ini adalah kulit bambu cenderung untuk tetap berwarna hijau sesuai dengan warna alaminya. Pengawetan warna hijau kulit bambu andong dengan menggunakan campuran larutan terusi dan nikel sulfat dengan pengeringan selama 14 – 28 hari.

D. Bambu lapis

Penelitian bambu sebagai bahan kayu lapis telah dilakukan oleh Sulastiningsih dan Sutigno, (1992) dalam skala laboratorium, dengan menggunakan sayatan bambu. Jenis bambu yang digunakan dalam penelitian adalah bambu tali. Hasil pengujian beberapa sifat mekanik bambu lapis terdapat pada Tabel 13.

Tabel 13. Beberapa sifat fisik dan mekanik bambu lapis

No Macam bambu lapis Kerapatan (g/cm3) Keteguhan lentur (kg/cm2)
1 Dari sayatan bambu
a 3 lapis 0,81 1022,48 98,62
b 5 lapis 0,80 1324,72 351,09
2 Dari pelupuh bambu
a Luar berkulit tanpa buku
Dalam tanpa buku
0,64 323,49 119,14
b Luar berkulit dengan buku
Dalam dengan buku
0,66 247,35 95,41
c Luar tanpa kulit tanpa buku
Dalam tanpa buku
0,65 326,43 89,91
d.Luar tanpa kulit dengan buku
Dalam dengan buku
0,64 341,20 89,31

Sumber : Sulastiningsih dan Sutigno (1992)

Penelitian pembuatan produk majemuk dari bahan bambu telah dilakukan oleh Kliwon (1997). Pembuatan bambu lapis itu menggunakan bahan bambu tali (Gigontochloa apus). Hasil dari penelitian itu menunjukkan bahwa rendemen pelupuh bambu dengan tebal 4,7 mm adalah 67,72% dan rendemen bambu lapisnya adalah sebesar 54,45%. Dimensi bambu lapis yang dibuat telah memenuhi standar Indonesia, sedangkan keteguhan rekat dan kadar air bambu lapis semuanya juga telah memenuhi standar Jepang. Hasil pengujian sifat fisis dan mekanis bambu lapis tercantum pada Tabel 14.

Tabel 14. Sifat fisis dan mekanis bambu lapis

No Sifat Jenis bahan pengawet Jenis bambu lapis
a1 a2
1 Kadar air (%) b0
b1
b2
12,26
11,41
9,60
10,33
10,21
10,03
2 Kerapatan (g/cm3) b0
b1
b2
0,70
0,74
0,72
0,63
0,64
0,62
3 Keteguhan rekat (delaminasi, cm) b0
b1
b2
0
0
0
0
0
0
4 Keteguhan lentur sejajar arah serat
a. Modulus patah (kg/cm2) b0
b1
b2
550,33
445,59
415,21
729,92
349,91
660,52
b. Modulus elastisitas (kg/cm2) b0
b1
b2
55802,00
46987,80
35659,60
86839,30
81992,20
84994,80

Sumber : Kliwon (1997)

Keterangan :
a1 = 3 lapisan bambu
a2 = lap. muka dan belakang bambu dan lap. inti venir meranti merah
b0 = kontrol
b1 = CCB
b2 = Boraks

Pengujian pada bambu lapis menunjukkan hasil yang memuaskan. Modulus patah sejajar serta permukaan bambu lapis semuanya memenuhi standar Jepang, sedangkan modulus elastisitas sejajar serat permukaan bambu lapis mampu memenuhi standar Jepang kecuali pada bambu lapis yang semua lapisannya dari pelupuh bambu dan menggunakan jenis bahan pengawet boraks.

Pengaruh perlakuan tunggal dan interaksi jenis bambu lapis dan jenis bahan pengawet yang dipergunakan berpengaruh sangat nyata terhadap sifat modulus patah bambu lapis. Sebaliknya baik pengaruh perlakuan tunggal maupun interaksinya tidak berpengaruh terhadap modulus elastisitas bambu lapis. Dalam pembuatan bambu lapis disarankan memakai lapisan inti dari venir tebal 4 mm untuk memperoleh bambu lapis yang modulus patahnya tinggi.

E. Bambu lamina

Penelitian mengenai bambu lamina telah dilakukan oleh Sulastiningsih et al., 1996. Penelitian ditekankan pada pengaruh jumlah lapisan dalam pembuatan bambu lamina. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis bambu lamina dari bambu betung tidak dipengaruhi oleh jumlah lapisan (2 – 5 lapis) kecuali keteguhan rekat berdasarkan uji geser tarik dalam keadaan kering (makin banyak jumlah lapisan keteguhan geser tariknya makin tinggi). Selain itu berdasarkan kerapatan, keteguhan lentur dan keteguhan tekan bambu lamina dapat disetarakan dengan kayu kelas kuat II. Adapun besarnya nilai sifat fisis dan mekanis bambu lamina adalah seperti terdapat pada Tabel 15.

Tabel 15. Nilai sifat fisis dan mekanis bambu lamina

No Sifat Jumlah lapisan
2 3 4 5
1 Kadar air (%) 10,90 11,45 12,17 11,86
2 Kerapatan (g/cm3) 0,66 0,73 0,67 0,69
3 Keteguhan lentur sejajar serat (kg/cm2)
– Modulus patah (MOR) 1089,35 1031,25 999,84 961,74
– Modulus elastisitas (MOE) 146763 175592 177863 146907
4 Keteguhan tekan sejajar serat (kg/cm2) 463,46 506,16 441,84 521,55
5 Keteguhan rekat (kg/cm2)
a. Uji geser tekan
– Uji kering 85,46 107,68 95,98 105,52
– Uji basah 63,63 57,26 69,45 71,40
b. Uji geser tarik
– Uji kering 67,20 71,10 84,59 99,83
– Uji basah 26,88 22,77 23,81 28,27
6 Delaminasi (cm) 0 0 0 0

Sumber : Sulastiningsih et al. (1996)

Bambu lamina memiliki sifat perekatan yang cukup baik. Apabila dalam pemakaian bambu lamina tidak memperhatikan faktor ketebalan, maka disarankan untuk menggunakan bambu lamina 2 lapis.

Informasi mengenai pengaruh posisi sepanjang kolom dan jumlah bahan pengawet yang dilaburkan, terhadap sifat fisis dan mekanis bambu lamina telah dilaporkan oleh Sulastiningsih et.al. (1998). Penelitian tersebut dilakukan pada bambu lamina 3 lapis dari jenis bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.) Widjaya.) yang direkat dengan perekat urea formaldehyde dan dilaburi dengan cuprinol. Hasilnya menunjukkan bahwa berat jenis bambu tidak dipengaruhi oleh posisi kolom dan kuantitas pelaburan dengan variasi berat jenis berkisar 0,68 – 0,78 g/cm3. Kuantitas pelaburan berpengaruh pada nilai modulus patah (MOR), yaitu semakin banyak pelaburan, makan nilai MOR-nya semakin menurun. Nilai MOR bervariasi antara 630,20 – 1.111,43 kg/cm2. Posisi kolom bambu mempengaruhi modulus elastisitas (MOE), yaitu semakin ke bawah, nilai MOE bambu lamina semakin besar.

Pada umumnya kekuatan perekatan dari bambu lamina adalah baik, tetapi kekuatan perekatan akan menurun bila kuantitas pelaburan bertambah. Berdasarkan berat jenis dan nilai kekuatan perekatan, maka bambu lamina dapat disejajarkan dengan kekuatan kayu kelas II, sementara bila dilaburi dengan Cuprinol sebanyak 3 kali, kualitasnya dapat disejajarkan dengan kayu kelas kuat III.

Sumber : http://www.dephut.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: