…..memanfaatkan potensi alam

PENGOLAHAN

A. Pengawetan

Usaha pengawetan bambu secara tradisional sudah dikenal oleh masyarakat pedesaan. Pengawetan itu dilakukan dengan cara merendamnya di dalam air mengalir, air tergenang, lumpur atau di air laut dan pengasapan. Selain itu juga sering ditemukan cara pengawetan dengan pelaburan kapur dan kotoran sapi pada gedek dan bilik bambu.

Penelitian pengawetan bambu dengan menggunakan bahan kimia disertai metode yang tepat dan efisien terus dilakukan. Pengawetan bambu mempunyai tujuan untuk mencegah serangan jamur (pewarna dan pelapuk) maupun serangga (bubuk kering, rayap kayu kering dan rayap tanah). Beberapa pengrajin mebel bambu telah melaksanakan pengawetan dengan menggunakan boraks, campuran kapur barus dengan minyak tanah, atau pengasapan dengan belerang. Namun sejauh ini belum diketahui efektifitas bahan-bahan kimia yang digunakan dan metode pengawetan yang dilaksanakan.

Penelitian pengawetan bahan bambu dengan menggunakan pestisida pengawet kayu telah dimulai oleh Martawijaya (1964). Hasilnya menunjukkan bahwa bambu dapat diawetkan dengan mudah terutama jika menggunakan bahan pengawet yang dapat berdifusi dengan baik. Penggunaan senyawaan boron dalam pengawetan bambu apus dan bambu hitam dilakukan oleh Supriana (1987). Hasilnya menunjukkan bahwa bambu apus dan bambu hitam dapat diawetkan dengan proses rendaman dingin masing-masing selama satu dan tiga hari pada konsentrasi tiga persen.

Penelitian cara pengawetan dengan cara rendaman dingin menggunakan larutan asam borat dan boraks (boric acid equivalent) 10% dan larutan Wolmanit CB 10% terhadap dua belas jenis bambu telah dilakukan oleh Abdurrochim (1982). Hasil penetrasi persenyawaan bor dan Wolmanit CB pada dua belas jenis bambu dapat dilihat pada Tabel 6 dan 7.

Tabel 6. Penetrasi persenyawaan bor pada dua belas jenis bambu

No Jenis bambu Potongan Penetrasi bor pada lama rendaman (%)
1 hari 3 hari 5 hari 7 hari Rata-rata
1

Ampel hijau (Bambusa vulgaris Schard)

dibelah
bulat
77,6 45,3 65,4
73,3
93,7
61,9
50,7
21,0
72,0
50,4
2

Ampel kuning (Bambusa vulgaris Schard)

dibelah
bulat
83,4
51,3
83,9
67,2
80,1
77,0
75,5
32,1
80,7
56,9
3

Andong (Gigantochloa verticillata (Wild.) Munro.)

dibelah
bulat
67,0
41,2
64,1
33,0
64,8
49,2
68,2
22,3
66,0
36,4
4

Apus (Gigantochloa apus (Bl.ex Schult.f.) Kurz.)

dibelah
bulat
75,1
35,6
66,8
28,5
68,9
36,7
68,7
51,1
69,9
38,0
5

Bitung (Dendrocalamus asper (Schult.f.) Kurz.)

dibelah
bulat
65,7
24,3
63,7
26,2
67,2
44,6
63,4
25,8
65,0
30,2
6

Buluh (Schizostachyum brachycladum Kurz.)

dibelah
bulat
72,7
38,9
96,0
76,7
100,0
80,7
100,0
90,5
92,2
71,7
7

Cakeutreuk (Schizostachyum zolingeri Steud.)

dibelah
bulat
72,8
21,1
72,0
36,8
89,1
62,7
77,8
45,2
77,9
41,5
8

Hitam (Gigantochloa atter (Hassk) Kurz. ex Munro)

dibelah
bulat
72,0
33,9
68,4
44,4
73,7
30,4
73,0
36,3
71,8
36,3
9

Lengka (Gigantochloa nigrocillata (Buese) Kurz)

dibelah
bulat
100,0
93,3
100,0
100,0
100,0
96,5
100,0
91,3
100,0
95,3
10

Tamiang (Schizostachyum blumei Nees)

dibelah
bulat
100,0
100,0
95,5
77,5
100,0
91,5
100,0
95,3
98,9
91,1
11

Temen (Gigantochloa verticillata (wild.)

dibelah
bulat
70,2
36,2
72,3
47,5
69,4
32,2
72,8
27,7
71,2
35,9
12

Uncul (Phyllostachys aurea A&Ch. Riviera)

dibelah
bulat
76,0
46,3
90,4
72,1
92,7
79,3
78,0
75,0
84,3
68,2

Tabel 7. Penetrasi Wolmanit CB pada dua belas jenis bambu

No Jenis bambu Potongan Penetrasi bor pada lama rendaman (%)
1 hari 3 hari 5 hari 7 hari Rata-rata
1

Ampel hijau (Bambusa vulgaris Schard)

dibelah
bulat
80,2
73,3
88,8
78,5
78,4
87,8
97,9
69,2
86,3
77,2
2

Ampel kuning (Bambusa vulgaris Schard)

dibelah
bulat
78,6
76,9
97,2
73,7
86,1
91,7
97,5
36,0
89,9
69,6
3

Andong (Gigantochloa verticillata (Wild.) Munro.)

dibelah
bulat
71,5
46,4
89,2
62,6
86,3
58,0
90,0
87,4
84,3
63,6
4

Apus (Gigantochloa apus (Bl.ex Schult.f.) Kurz.)

dibelah
bulat
82,4
63,6
97,1
94,8
93,8
69,1
95,6
94,2
92,2
80,4
5

Bitung (Dendrocalamus asper (Schult.f.) Kurz.)

dibelah
bulat
64,3
45,1
94,2
61,8
100,0
76,0
91,5
88,6
87,5
67,9
6

Buluh (Schizostachyum brachycladum Kurz.)

dibelah
bulat
76,8
100,0
96,0
77,5
100,0
98,8
100,0
95,7
93,2
93,0
7

Cakeutreuk (Schizostachyum zolingeri Steud.)

dibelah
bulat
64,5
53,1
92,0
92,1
100,0
51,0
90,7
92,9
86,8
72,3
8

Hitam (Gigantochloa atter (Hassk) Kurz. ex Munro)

dibelah
bulat
72,6
73,8
87,8
66,2
100,0
78,2
99,3
37,9
89,9
64,1
9

Lengka (Gigantochloa nigrocillata (Buese) Kurz)

dibelah
bulat
100,0
78,3
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
90,6
100,0
92,2
10

Tamiang (Schizostachyum blumei Nees)

dibelah
bulat
100,0
93,3
95,5
100,0
100,0
100,0
100,0
94,0
98,9
96,8
11

Temen (Gigantochloa verticillata (wild.)

dibelah
bulat
69,9
80,4
83,0
63,3
78,8
81,6
92,6
90,4
81,1
78,9
12

Uncul (Phyllostachys aurea A&Ch. Riviera)

dibelah
bulat
80,0
55,7
90,4
100,0
99,2
88,0
100,0
64,0
92,4
76,9

Sumber : Abdurrochim (1982)

Proses pengawetan pada jenis bambu yang sama dan telah dibelah berpengaruh sangat nyata terhadap penetrasi senyawaan boron. Hal ini berarti proses pengawetan akan lebih efisien pada bambu yang telah dibelah daripada bambu yang bulat utuh. Lama rendaman dalam pembelahan dan pada jenis bambu yang sama, juga berpengaruh sangat nyata terhadap penetrasi Wolmanit CB.

Pengawetan dengan senyawaan boron terhadap jenis bambu ampel hijau, ampel kuning, andong, apus, bitung, hitam, lengka, tamiang dan temen baik yang dibelah maupun bulat serta bambu cakeutreuk dan uncul yang dibelah cukup direndam satu hari. Bambu buluh baik yang dibelah maupun bulat dan bambu cakeutreuk dan uncul yang bulat sebaiknya direndam tiga hari.

Pengawetan dengan Wolmanit CB terhadap bambu ampel hijau, ampel kuning, apus, lengka dan tamiang baik yang dibelah maupun bulat, bambu andong yang dibelah serta bambu buluh, hitam, temen dan uncul yang dibelah sebaiknya direndam tiga hari. Bambu andong yang bulat sebaiknya direndam tujuh hari.

Penelitian pengawetan bambu dengan bahan pengawet lainnya dilakukan oleh Barly dan Permadi (1987). Pengawetan dilakukan terhadap bambu andong (Gigantochloa verticillata Munro), apus (Gigantochloa apus (Bl.ex Schult.f.) Kurz) dan bitung (Dendrocalamus asper (Schult.f.) Backer ex Heyne) menggunakan bahan pengawet Koppers F 7 pada konsentrasi 5%. Hasil nilai penetrasi dan retensi bahan pengawet Formula 7 pada 3 jenis bambu yang diawetkan secara rendaman dingin dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Nilai penetrasi dan retensi bahan pengawet Formula 7 pada tiga jenis bambu

No Jenis bambu Waktu rendaman Perlakuan awal Penetrasi (%) Retensi (kg/m3)
1

Betung

1

3

5

D
TD
D
TD
D
TD
57,4
61,1
43,7
52,2
52,4
57,0
11,93
21,35
13,56
21,44
16,66
18,56
2

Andong

1

3

5

D
TD
D
TD
D
TD
82,2
90,7
97,2
95,9
94,2
94,9
24,59
32,97
28,58
31,56
27,94
35,66
3

Tali

1

3

5

D
TD
D
TD
D
TD
81,5
70,9
91,4
93,9
93,7
95,9
11,83
22,33
21,64
26,07
26,09
30,96

Sumber : Barly dan Permadi (1987)
Keterangan : D = ditutup TD = tidak ditutup

Dari penelitian tersebut diperoleh informasi bahwa masuknya bahan pengawet dari arah longitudinal dapat mencapai hasil maksimum setelah direndam selama satu hari. Nilai retensi yang dicapai pada percobaan ini cukup besar dan melebihi persyaratan yang dianjurkan untuk bahan bangunan perumahan yang diawetkan (Barly, 1995). Untuk mencapai persyaratan itu bambu betung dan bambu andong cukup direndam selama satu hari sedangkan untuk bambu apus direndam selama tiga hari. Perpanjangan waktu rendaman tidak meningkatkan nilai penetrasi dan retensi bahan pengawet.

Penelitian mengenai penembusan bahan pengawet ke dalam batang bambu andong dan bambu betung yang diawetkan secara vertikal telah dilakukan oleh Permadi (1992). Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa keterawetan bambu andong dan betung relatif sama. Rendaman selama empat minggu menghasilkan penetrasi bahan pengawet tertinggi (33 cm dan 30 cm), sedangkan perendaman selama satu sampai tiga minggu menghasilkan penetrasi bahan pengawet yang relatif sama. Hasil penelitian ini juga memberikan catatan bahwa karena bambu yang digunakan sudah kering sehingga bahan pengawet tidak dapat berdifusi dengan baik, sehingga perlu diadakan perbaikan dalam proses pengawetannya. Metode pengawetan bambu secara vertikal diperlihatkan pada gambar 1, sedangkan hasil penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Penembusan bahan pengawet pada bambu yang direndam secara vertikal

No Jenis bambu Kadar air (%) Lama perendaman (minggu)
Saat ditebang Saat pengawetan 1 2 3 4
1

Andong

93,7 82,5 11,11 cm 14,75 cm 15,88 cm 33,40 cm
2

Betung

98,3 83,6 12,58 cm 16,28 cm 19,26 cm 30,33 cm

Sumber : Permadi (1992)

Bagian batang dari bambu juga mempunyai karakteristik serangan hama. Hal ini diungkapkan oleh Sumarni dan Ismanto (1992). Jenis serangga yang menyerang pada bagian tengah ialah jenis serangga Dinoderus sp., Lyctus sp. dan kumbang, sedangkan pada bagian pangkal hanya ditemukan dua jenis serangga yaitu Dinoderus sp. dan kumbang. Bagian pangkal lebih awet daripada bagian tengah bambu.

Pengembangan metode pengawetan telah dilaksanakan, diantaranya dengan metode boucheri untuk pengawetan bambu segar yang telah diteliti oleh Permadi dan Sumarni (1995). Bahan bambu yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu andong (Gigantochloa verticillata Munro.) dan bambu tali (Gigantochloa apus Kurz.), dengan bahan pengawet borax (Na2B4O7. 10H2O) konsentrasi 5%. Pengawetan dengan metode boucheri memberikan bahan pengawet pada bagian bawah batang bambu dan tidak memotong daun dan rantingnya, agar proses asimilasi dan penyerapan bahan makanan tetap berlangsung, seperti tampak dalam gambar 1a pada bambu andong dan 1 b pada bambu tali.
bambuandong.jpg (11571 bytes) bambutali.jpg (10445 bytes)
1a Bambu andong 1b Bambu tali
Gambar 1. Pengawetan bambu metode boucheri

Berdasarkan penelitian ini diperoleh informasi bahwa bambu andong lebih mudah diawetkan dengan cara boucheri dibandingkan bambu tali. Rata-rata penetrasi longitudinal pada bambu andong dan tali dengan variasi waktu lama perendaman ditunjukkan pada Tabel 10.

Tabel 10. Penetrasi longitudinal (cm) pada bambu andong dan tali

Lama perendaman (hari) Rata-rata penetrasi (cm)
Andong Tali
2 131,40 68,30
4 304,92 116,83
6 308,42 151,37
8 469,88 141,88
10 315,28 128,17

Sumber : Permadi dan Sumarni (1995)

Penelitian tentang pengawetan bambu segar secara sederhana telah dilaksanakan oleh Barly dan Sumarni (1997). Pengawetan dilakukan pada bambu yang sudah terpilih ditebang dan diusahakan tetap tegak berdiri atau bersandar pada pohon lain. Pada bagian pangkal batang dikuliti sepanjang 10 cm untuk memperluas permukaan. Batang yang sudah dikuliti segera dimasukkan ke dalam larutan bahan pengawet untuk mencegah masuknya udara ke dalam batang bambu yang mungkin dapat mengganggu proses aliran bahan pengawet. Hasil pengamatan rata-rata dari 5 ulangan tercantum dalam Tabel 11.

Tabel 11. Hasil pengamatan

No Uraian Konsentrasi (%) Waktu (hari)
1 3 5
1

Absorpsi (l)

5
10
1,66
2,23
2,40
2,63
3,66
4,16
2

Penetrasi (m)

5
10
7,67
10,36
10,04
7,40
12,33
11,89
3

Penetrasi (%)

5
10
52,55
70,32
80,52
57,61
81,45
80,48
4

Retensi pada bagian terawetkan (kg/m3)

5
10
3,18
5,90
4,46
9,36
4,72
7,84
5

Retensi pada seluruh volume (kg/m3)

5
10
1,56
3,70
3,90
5,39
3,77
6,36

Sumber : Barly dan Sumarni (1997)

Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh informasi tentang adanya kecenderungan kenaikan absorpsi dengan bertambahnya waktu pengawetan. Dan sebagai saran dalam mengawetkan bambu sebaiknya digunakan bahan pengawet dengan konsentrasi 10% dan lama pengawetan 5 hari agar memperoleh retensi yang memenuhi syarat dengan catatan penembusan bahan pengawet mencapai 75% dari panjang bambu.

Pengujian keragaan bahan pengawet boron-fluor-chrom-arsen (BFCA) pada bahan bambu dilakukan oleh Sumarni et al. (1992). Pengujian dilakukan pada bambu betung (Dendrocalamus asper Back.) terhadap serangga bubuk kering. Contoh uji dibuat 12 perlakuan selanjutnya direndam dalam larutan bahan pengawet BFCA 5% selama tiga hari. Pengamatan dilakukan selama satu tahun dengan kriteria penilaian jumlah lubang serangan, serangga hidup, stadium serangga dan derajat serangan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tiga dari dua belas jenis perlakuan yaitu ruas bambu antar dua buku yang berkulit, berkulit disayat sebagian dan berkulit dilubangi (dibor) hasilnya tidak efektif. Hal ini disebabkan karena retensi bahan pengawet yang digunakan hanya berkisar antara 3,17 kg/m3 – 4,24 kg/m3 atau masih dibawah standar (6 kg/m3 ).

Sumber : www.dephut.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: