…..memanfaatkan potensi alam

SIFAT DASAR

A. Anatomi

Kolom bambu terdiri atas sekitar 50% parenkim, 40% serat dan 10% sel penghubung (pembuluh dan sieve tubes) Dransfield dan Widjaja (1995). Parenkim dan sel penghubung lebih banyak ditemukan pada bagian dalam dari kolom, sedangkan serat lebih banyak ditemukan pada bagian luar. Sedangkan susunan serat pada ruas penghubung antar buku memiliki kecenderungan bertambah besar dari bawah ke atas sementara parenkimnya berkurang.

B. Sifat Fisis dan Mekanis

Sifat fisis dan mekanis merupakan informasi penting guna memberi petunjuk tentang cara pengerjaan maupun sifat barang yang dihasilkan. Hasil pengujian sifat fisis dan mekanis bambu telah diberikan oleh Ginoga (1977) dalam taraf pendahuluan. Pengujian dilakukan pada bambu apus (Gigantochloa apus Kurz.) dan bambu hitam (Gigantochloa nigrocillata Kurz.). Beberapa hal yang mempengaruhi sifat fisis dan mekanis bambu adalah umur, posisi ketinggian, diameter, tebal daging bambu, posisi beban (pada buku atau ruas), posisi radial dari luas sampai ke bagian dalam dan kadar air bambu. Hail pengujian sifat fisis mekanis bambu hitam dan bambu apus terdapat pada Tabel 1.

Tabel 1. Sifat fisis dan mekanis bambu hitam dan bambu apus

No Sifat Bambu hitam Bambu apus

1

Keteguhan lentur statik
a. Tegangan pada batas proporsi (kg/cm2)

447

327

b. Tegangan pada batas patah (kg/cm2)

663

546

c. Modulus elastisitas (kg/cm2)

99000

101000

d. Usaha pada batas proporsi (kg/dcm3)

1,2

0,8

e. Usaha pada batas patah (kg/dm3)

3,6

3,3

2

Keteguhan tekan sejajar serat (tegangan  maximum, kg/cm2)

489

504

3

Keteguhan geser (kg/cm2)

61,4

39,5

4

Keteguhan tarik tegak lurus serat (kg/cm2)

28,7

28,3

5

Keteguhan belah (kg/cm2)

41,4

58,2

6

Berat Jenis
a. KA pada saat pengujian

0,83(KA:28%)

0,69(KA:19,11%)

b. KA kering tanur

0,65(KA:17%)

0,58(KA:16,42%)

7

Keteguhan pukul
a. Pada bagian dalam (kg/dm3)

32,53

45,1

b. Arah tangensial (kg/dm3)

31,76

31,9

c. Pada bagian luar (kg/dm3)

17,23

31,5

Sumber : Ginoga (1977)

Sifat fisis dan mekanis jenis bambu lainnya telah diinformasikan Hadjib dan Karnasudirdja (1986). Pengujian dilakukan pada tiga jenis bambu, yaitu bambu andong (Gigantochloa verticillata), bambu bitung (Dendrocalamus asper Back.) dan bambu ater (Gigantochloa ater Kurz.) Hasilnya menunjukkan bahwa bambu ater mempunyai berat jenis dan sifat kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan bambu bitung dan bambu andong. Nilai rata-rata keteguhan lentur maksimum, keteguhan tekan sejajar serat dan berat jenis tidak berbeda nyata pada buku dan ruas, sedangkan antar jenis berbeda nyata. Nilai rata-rata sifat fisis dan mekanis bambu terdapat pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai sifat fisis dan mekanis bambu

No

Sifat fisis dan mekanis

Bambu ater

Bambu bitung

Bambu andong

(kg/cm2)

(kg/cm2) (kg/cm2)
1

Keteguhan lentur maksimum

533,05 342,47 128,31
2

Modulus elastisitas

89152,5 53173,0 23775,0
3

Keteguhan tekan sejajar serat

584,31 416,57 293,25
4

Berat jenis

0,71 0,68 0,55

Sumber : Hadjib dan Karnasudirdja (1986)

C. Sifat Kimia

Penelitian sifat kimia bambu telah dilakukan oleh Gusmailina dan Sumadiwangsa (1988) meliputi penetapan kadar selulosa, lignin, pentosan, abu, silika, serta kelarutan dalam air dingin, air panas dan alkohol benzen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar selulosa berkisar antara 42,4% – 53,6%, kadar lignin bambu berkisar antara 19,8% – 26,6%, sedangkan kadar pentosan 1,24% – 3,77%, kadar abu 1,24% – 3,77%, kadar silika 0,10% – 1,78%, kadar ektraktif (kelarutan dalam air dingin) 4,5% – 9,9%, kadar ekstraktif (kelarutan dalam air panas) 5,3% – 11,8%, kadar ekstraktif (kelarutan dalam alkohol benzene) 0,9% – 6,9%. Hasil analisis kimia 10 jenis bambu terdapat pada Tabel 3.

Tabel 3. Analisis kimia 10 jenis bambu

No Jenis bambu Selulosa Lignin Pentosan Abu Silika Kelarutan dalam, (%)
Air dingin Air panas Alkohol- benzen NaOH 1%

1

Phyllostachys reticulata  (bambu madake)

48,3 22,2 21,2 1,24 0,54 5,3 9,4 4,3 24,5
2

Dendrocalamus asper (bambu petung)

52,9 24,8 18,8 2,63 0,20 4,5 6,1 0,9 22,2
3

Gigantochloa apus (bambu batu)

52,1 24,9 19,3 2,75 0,37 5,2 6,4 1,4 25,1
4

Gigantochloa nigrociliata (bambu batu)

52,2 26,6 19,2 3,77 1,09 4,6 5,3 2,5 23,1
5

Gigantochloa verticillata (bambu peting)

49,5 23,9 17,8 1,87 0,52 9,9 10,7 6,9 28,0
6

Bambusa vulgaris (bambu ampel)

45,3 25,6 20,4 3,09 1,78 8,3 9,4 5,2 29,8
7

Bambusa bambos  (bambu bambos)

50,8 23,5 20,5 1,99 0,10 4,6 6,3 2,0 24,8
8

Bambusa polymorpha (bambu kyathaung)

53,8 20,8 17,7 1,83 0,32 4,9 6,9 1,9 22,4
9

Chephalostachyum  pergraciles(bambu tinwa)

48,7 19,8 17,5 2,51 0,51 9,8 11,8 6,7 29,3
10

Melocanna bambusoides

42,4 24,7 21,5 2,19 0,33 7,3 9,7 4,0 28,4

Sumber : Gusmailina dan Sumadiwangsa (1988)

D. Keawetan dan Keterawetan

Penelitian keawetan bahan bambu telah dilakukan oleh Jasni dan Sumarni (1999), sedangkan penelitian tentang keterawetan bahan bambu belum dilakukan. Jasni dan Sumarni (1999) mengemukakan bahwa dari tujuh jenis bambu yang diteliti, bambu ampel (Bambusa vulgaris) paling rentan terhadap serangan bubuk, kemudian bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea), bambu hitam (Gigantochloa atroviolaceae) dan bambu terung (Gigantochloa nitrocilliata). Sedangkan bambu atter (Gigantochloa atter) dan bambu apus/tali (Gigantochloa apus) relatif tahan terhadap serangan bubuk. Jenis bubuk bambu yang banyak ditemukan menyerang bambu adalah Dinoderus sp., sedangkan jenis bubuk yang paling sedikit ditemukan menyerang bambu adalah Lyctus sp. Kuantitas bubuk yang ditemukan pada bambu terdapat pada Tabel 4, sedangkan penyebaran jenis bubuk pada bambu terdapat pada Tabel 5.

Tabel 4. Bubuk yang ditemukan pada bambu

No Jenis bambu Jumlah serangga Total serangga DS (%)
P (e) T (e) U (e) S (e) R (%) Y (b)
1

Bambusa vulgaris

415 375 10 800 30,48 2312 100
2

Gigantochloa apus

125 25 6 156 5,94 252 40
3

Gigantochloa atroviolaceae

257 295 2 554 21,10 997 90
4

Gigantochloa atter

175 30 8 213 8,11 484 40
5

Gigantochloa nigrocilliata

180 48 228 8,69 1176 70
6

Gigantochloa robusta

177 60 237 9,03 655 70
7

Gigantochloa pseodoarundinacea

227 202 8 457 16,65 1982 90

Sumber : Jasni dan Sumarni (1999)
Keterangan :
P : pangkal                   e : ekor                                         R : jumlah dalam %
T : tengah                     b : buah                                       Y : lubang gerek
U : ujung                       S : jumlah individu              DS  : derajat serangan

Tabel 5. Penyebaran jenis bubuk pada bambu

No Jenis bubuk Jenis bambu Jumlah
A B C D E F G H I
1

H. aequalis Wat

+ + + + 327 12,33
2

Lyctus sp.

+ + + + 35 1,32
3

Dinodeus

+ + + + + + + 1946 73,23
4

Minthea sp.

+ + + + + 369 13,93

Sumber : Jasni dan Sumarni (1999)
Keterangan :
A : bambu ampel            D : bambu atter         G   : bambu andong
B : bambu apus (tali)     E : bambu terung     +   : ditemukan
C : bambu hitam             F : bambu mayan      –    : tidak ditemukan

Sumber : www.dephut.go.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: